Ekosistem Pendidikan di University of Oxford yang Baik untuk Diteladani

Berangkat ke University of Oxford sebagai mahasiswa doktoral di mana saya biasanya berada di posisi faculty/dosen di salah satu universitas di Indonesia (dan juga menjadi mahasiswa S1 di Indonesia), tentu saja saya mengobservasi banyak sekali perbedaaan sistem pendidikan tinggi di antara keduanya. Tidak selalu apa yang dilakukan di Uni of Oxford pasti lebih baik dengan bagaimana kita melakukannya di Indonesia, karena tentu saja ada banyak faktor berbeda yang harus dipertimbangkan, seperti rasio jumlah pengajar dan mahasiswa, fasilitas riset, hingga bagaimana tingkat keahlian (expertise) para pengajarnya. Namun, dari perbedaan-perbedaan yang saya amati tersebut, beberapa poin di bawah ini merupakan apa yang saya rasa dapat kita anggap Uni of Oxford melakukannya dengan lebih baik dan oleh karena itu dapat dipertimbangkan untuk diadopsi atau diteladani: (catatan: saya di Uni of Oxford merupakan mahasiswa doktoral di mana saya tidak mengambil kelas perkuliahan kelas sama sekali dan hanya mengerjakan riset saya, di bawah ini adalah pengamatan yang saya lakukan terhadap teman-teman S1 dan S2 saya di sini, serta bagaimana S1 dilaksanakan di departemen saya)

1.     Periode term yang singkat

Di University of Oxford (dan juga University of Cambridge), bagi para mahasiswa S1 dan S2, perkuliahan dilaksanakan dalam 3 terms yang masing-masing term-nya terdiri dari 8 minggu. Jadi, kalau dihitung secara keseluruhan, dalam satu tahun, waktu efektif perkuliahan dilaksanakan hanya dalam 24 minggu. Di Indonesia sendiri, di UI tempat saya mengajar, waktu efektif perkuliahan total dalam satu tahun adalah 32 minggu (16 minggu per semester). Waktu kuliah yang singkat membuat mahasiswa di Uni of Oxford memiliki banyak waktu lebih untuk melakukan hal-hal di luar kelas, seperti: ikut terlibat dalam proyek penelitian, melakukan magang (internship) di industri, atau bahkan mengembangkan riset atau usaha bisnis sendiri. Untuk bisa diterapkan di Indonesia, periode term yang singkat ini bisa dikolaborasikan dengan sistem Kampus Merdeka yang dicanangkan oleh Kemdikbud sehingga mahasiswa tidak perlu mengambil cuti kuliah satu semester dan menunda kelulusan. Periode kuliah yang singkat juga akan sangat membantu dosen dalam melaksanakan riset mereka. Seperti yang diketahui, Perguruan Tinggi di Indonesia berpegang pada tiga pilar, yaitu: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Dari pengalaman saya menjadi dosen di Indonesia, saat ini PT di Indonesia masih sangat fokus di pendidikan sehingga penelitian dan pengabdian masyarakat belum terlaksana secara optimal. Apabila periode perkuliahan dipersingkat, tentunya dosen akan mempunyai banyak waktu lebih untuk melakukan riset mereka dan juga pengabdian masyarakat.

 

2.     Sistem tutorial

Sedikit berbeda dengan bagaimana perkuliahan dilaksanakan di Indonesia, yang mana masih didominasi oleh kuliah-berfokus-pada-guru (teacher-centered-lecture), di Uni of Oxford, dalam satu minggu, perkuliahan dilaksanakan dengan frekuensi yang lebih sedikit. Dibandingkan perkuliahan, hampir seluruh waktu mahasiswa selama periode kuliah adalah belajar, membaca, dan mengerjakan tugas sendiri atau bersama grup, biasanya di perpustakaan (dapat dilihat salah satu video kegiatan sehari-hari mahasiswa S1 di Oxford). Selain belajar melalui praktikum, kuliah, dan mengerjakan tugas, ada juga sistem belajar yang disebut dengan tutorial, khususnya bagi mahasiswa S1, di mana 2-3 mahasiswa berdiskusi selama 1-1,5 jam dengan dosen. Pada sesi tutorial ini, mahasiswa datang membawa tugas yang sudah dikerjakan (biasanya berupa esai atau jawaban problem sheet), dan dosen dengan mahasiswa berdiskusi bersama mengkritisi tugas tersebut. Di sesi tutorial ini, mahasiswa dilihat dan ditanyakan kembali oleh dosen bagaimana cara berpikir dalam mengerjakan soal atau esai, serta diperbaiki/diluruskan kembali oleh dosen apabila ada konsep yang masih kurang tepat dalam pengerjaan tugasnya. Sistem tutorial yang dalam dan menyeluruh ini saya pikir akan sangat bagus untuk dicontoh di Indonesia, terlebih karena akan sangat membantu mahasiswa dalam mengembangkan pola pikir kritis, dan juga dosen dapat memantau secara langsung progres/kemajuan belajar mahasiswa dengan detail. Sayangnya, tantangan penerapan konsep tutorial ini di Indonesia adalah terbatasnya sumber daya pengajar dibandingkan dengan jumlah mahasiswa. Di Uni of Oxford, sistem ini dapat diterapkan dengan sangat baik karena rasio jumlah pengajar dan mahasiswa di sini juga ideal untuk sistem tutorial.

 

3.     Akses ke materi belajar yang tak terbatas

Foto saya di depan Radcliffe Camera, salah satu perpustakaan tertua di

Text Box: Foto saya dengan latar belakang Radcliffe Camera, salah satu bangunan penciri khas kota Oxford, yang mana merupakan perpustakaan yang dibangun pada tahun 1700-anBaik dari materi (akses ke jurnal dan buku akademik) dan perpustakaan, salah satu yang membuat mahasiswa serta civitas akademi Uni of Oxford selalu tidak pernah berhenti belajar adalah akses ke materi belajar yang amat sangat luas. Di kota Oxford sendiri, terdapat lebih dari 100 perpustakaan dengan jutaan buku cetak, hingga lebih dari 80.000 jurnal elektronik. Adanya sumber daya tak terbatas ini, menjadikan tidak adanya alasan untuk setiap mahasiswa tidak tahu akan suatu hal. Sesungguhnya, kalau dibandingkan dengan bagaimana pendidikan tinggi di Indonesia saat ini, akses ke materi belajar yang luas ini tidak jauh berbeda, apalagi sejak masa pandemi, di mana akses buku elektronik terbuka (open source) dari perpustakaan universitas ataupun bahkan perpustakaan nasional (https://e-resources.perpusnas.go.id/). Seharusnya, dengan semakin luasnya akses internet dan material pembelajaran yang gratis, tidak lagi? menjadi penghalang untuk kita belajar tanpa perlu menjejakkan kaki di kota Oxford.

4.     Riset kelas dunia

Researcher?Uni of Oxford terkenal dengan risetnya yang berskala global (contoh: pembuatan vaksin AstraZeneca) serta kolaborasi dengan universitas serta institusi riset internasional lainnya. Hal ini tentu saja didukung oleh adanya dana riset yang besar baik itu dari negara maupun swasta (kolaborasi dengan industri). Dana riset ini kemudian membuat Uni of Oxford memiliki instrumen penelitian yang paling mutakhir dan juga sampel data yang tidak bisa didapatkan secara mudah di tempat lain. Staf pengajar (baik itu S1 maupun S2) di Uni of Oxford merupakan mereka yang sehari-harinya melakukan riset dengan teknologi terbaru ini dan senantiasa mempublikasikan penemuan-penemuan mereka di jurnal. Oleh karena itu, hal yang dipelajari oleh para mahasiswa di sini selalu terbarui dan bahkan disampaikan langsung oleh penemu itu sendiri. Tak jarang mahasiswa ditawarkan kesempatan untuk bergabung dalam tim riset sehingga mahasiswa bisa merasakan sendiri bagaimana riset itu dilakukan dan berkontribusi dalam pengembangan sains itu sendiri. Di akhir studi, biasanya tahun ke-3, mahasiswa S1 akan diharuskan untuk melakukan risetnya sendiri dibimbing oleh dosen yang terkait dengan minat mahasiswa tersebut. Di Indonesia, saya rasa makin ke sini makin banyak mahasiswa yang dilibatkan ke proyek riset dosen, terutama untuk pembuatan skripsi. Untuk hal ini, memang yang membedakan antara Indonesia dan Oxford adalah skala risetnya yang berujung ke dana riset kita di Indonesia yang masih terbatas.

 

5.     Suasana kota pelajar

Kota Oxford sendiri adalah kota kecil yang hampir seluruh bangunan di pusat kotanya adalah milik universitas. Hampir di banyak bagian di kota ini dapat ditebak bahwa orang-orangnya adalah mahasiswa, asisten riset, laboran, post-doc, staf pengajar, atau bahkan petugas perpustakaan. Keberadaan mahasiswa, terutama saat waktu term, yang mana mereka mengerjakan esai di perpustakaan, kafe, atau bahkan di taman, menghidupkan suasana kota yang selalu ?berpikir?. Terkadang, saat saya berjalan dan berpapasan dengan dua-tiga orang yang sedang bercakap-cakap pun, saya dapat mendengar bagaimana mereka berdebat tentang suatu konsep politik atau teori sains. Intinya, hampir setiap saat di sini, semua orang berpikir dan berdiskusi. Hal ini tentu saja memicu saya sendiri sebagai salah satu warga Oxford untuk senantiasa mempertanyakan sesuatu dan berpikir. Hal ini juga yang dapat dicontoh bagi Perguruan Tinggi di Indonesia. Saat ini, saya rasa masih sangat sedikit sekali orang yang berbicara tentang hal-hal seperti sains ataupun topik yang bersifat pengetahuan di jalan ataupun di tempat-tempat publik. Pemerintah atau bahkan kita sebagai masyarakat umum dapat mendorong serta memicu percakapan-percakapan seperti ini sehingga pola pikir kritis dapat terbentuk dengan sendirinya di kehidupan kita sehari-hari, khususnya di lingkungan perguruan tinggi.

 

Di atas hanyalah lima hal dari sekian banyak hal yang saya amati yang dapat kita teladani dari bagaimana ekosistem pendidikan di University of Oxford dilaksanakan. Mungkin memang masih banyak ?pekerjaan rumah? yang harus kita lakukan untuk membenahi sedikit demi sedikit sistem serta ekosistem pendidikan di Indonesia, tapi perlahan saya yakin kita akan sampai ke sana. Jika dirunut ke belakang, untuk bisa sampai di titik sekarang ini, Uni of Oxford sendiri sudah berjalan selama kurang lebih 600 tahun. Sementara, Indonesia baru saja memperingati kemerdekaannya yang ke-76 di tahun 2021 ini. Perjalanan kita ?masih panjang, tapi untungnya sebagai negara berkembang, kita tidak perlu lagi melakukan percobaan dan melakukan kesalahan (trial-and-error), yang perlu kita lakukan sekarang adalah mengamati dan memilah serta meneladani mana yang kiranya baik untuk kita dan mana yang tidak.

 

Oxford, 13 September 2021