Pendidikan Yang Mengubah Hidup

Pada saat saya menulis artikel ini, salah satu mahasiswa S1 ITB yang praktik dengan saya selama enam bulan mendapatkan beasiswa untuk pendidikan PhD (S3) di University of California Berkeley. Beasiswa itu didapatnya bahkan sebelum dia lulus S1. UC Berkeley merupakan universitas prestisius 5 besar dunia setara dengan MIT, Harvard dan Stanford. Mendapatkan beasiswa untuk PhD di universitas top di dunia merupakan suatu lompatan karir yang saya yakin akan mengubah hidup anak tersebut.

Saya saat ini berada di Luxembourg, menjadi seorang peneliti dengan dua afiliasi di LIPI dan di University of Luxembourg. Alasan utama saya ke Luxembourg adalah menemani istri yang pada tahun 2019 diterima masuk S3 di sini. Suatu kebahagiaan karena pada umumnya pasangan atau keluarga dari mahasiswa S3 di luar negeri harus berpisah atau meninggalkan pekerjaan demi menemani pasangannya. Namun hal tersebut tidak perlu terjadi karena LIPI memperbolehkan stafnya untuk postdoc dengan status pegawai pelatihan. Keluaran riset yang dilakukan di sini adalah milik LIPI dan University of Luxembourg.

Kalau saya membayangkan hidup saya di 15 tahun yang lalu saat saya masih SMA dan hendak masuk  di Universitas Brawijaya atau 20 tahun lalu saat saya masih SMP dan hendak memutuskan masuk SMA mana, apa yang saya alami sekarang tidak terbayangkan pada masa silam. Dulu karena keterbatasan dana saya berpikir untuk SMK dan segera bekerja. Saya pilih SMK terbaik menurut saya waktu itu, yaitu SMK Telkom di Malang. Ternyata saya gagal dan akhirnya masuk SMAK St. Albertus di Malang.  Di SMA itu saya menemukan guru-guru fisika yang menginspirasi. Mereka memberikan peluang dan motivasi untuk ikut lomba dan olimpiade walaupun dalam perlombaan itu saya lebih banyak gagalnya daripada menangnya. Ekstrakurikuler anak-anak kebanyakan adalah basket, paduan suara, dan futsal. Namun bagi saya ekskul saya adalah fisika. Pengalaman selama SMA itu membuat saya menyukai fisika dan saya sudah yakin akan menjadi ilmuan fIsika. Saya sudah bermimpi untuk sekolah fisika atau robotik di Jepang saat saya mau lulus SMA. Saya coba wujudkan mimpi itu dengan mengikuti tes beasiswa pemerintah Jepang, namun gagal. Akhirnya masuk S1 Fisika Brawijaya, tetapi mimpi ke Jepang tidak padam hingga saya menempuh studi S2 dan S3 di Tohoku University. Beasiswa itu bahkan saya dapatkan sebelum saya lulus S1.

Sekolah di Jepang membuka semua peluang yang dulunya tidak pernah saya bayangkan. Saya telah mengunjungi puluhan negara untuk keperluan konferensi sains, kolaborasi dan kunjungan riset termasuk MIT, University of Southern California, Uni Koeln di Jerman dan lain-lain. Saya bisa bekerja di pusat penelitian Singapura (A*Star), menjadi PNS di LIPI dan sekarang peneliti di Luxembourg. Saya mungkin termasuk orang yang beruntung tetapi saya mendapatkan keberuntungan itu saat saya siap memperolehnya.

Tulisan ini tentu saja tidak akan membujuk saudara untuk mengambil sekolah hingga S3 dan kemudian membuat orang Indonesia dipenuhi doktor dan peneliti. Saya hanya ingin katakan bahwa apapun profesi saudara, pendidikan dapat dilakukan di manapun untuk meningkatakan kapasitas pribadi kita. Pendidikan ibarat menanam pohon, bila dengan sabar kita sirami dan rawat akan manis buahnya dan memberikan keuntungan berlipat-lipat.          

Pendidikan adalah investasi

Warren Buffet, investor terkemuka di dunia, berkata “di dunia ini anda memiliki tiga hal yang dapat anda tukarkan pengetahuan, waktu dan uang.” Di saat muda kita memiliki banyak waktu, sedikit uang dan sedikit pengetahuan. Kita mungkin meminjam uang orang tua (walaupun kita tidak pernah mengembalikannya) untuk mengenyam pendidikan untuk mendapatkan pengetahuan. Mungkin dengan pengetahuan itu kita mendapatkan pekerjaan. Kita menjadi makin sibuk dengan pekerjaan, kita memiliki uang dan pengetahuan tetapi tidak memiliki waktu. Untuk memiliki waktu kita harus membayar jasa orang yang menolong kita, mungkin kita membayar dokter, satpam, montir dan bahkan asisten rumah tangga atau baby sitter supaya kita tidak menghabiskan banyak waktu mengurusi tetek bengek masalah kita. Demikian teori Buffet, 3 hal itu tidak pernah kita miliki bersamaan maka kita harus menggunakannya dengan bijaksana.

Masyarakat Indonesia dapat kita anggap memiliki penghasilan rata-rata setara UMR, kita pukul rata Rp. 3 juta per bulan. Maka sehari dia menghasilkan 100 ribu per hari untuk makan, rumah, transportasi, kebutuhan anak dan bersenang-senang. Ada yang upahnya lebih rendah dari UMR dan ada pula yang puluhan, ratusan dan bahkan jutaan kali lebih tinggi upahnya dibanding UMR. Contoh ektrem, Christiano Ronaldo digaji Rp. 1.3 miliar per hari atau 10 juta kali UMR Indonesia. Bila gajinya disumbangkan, dapat memberi makan 10 juta keluarga di Indonesia.

Christiano Ronaldo (CR7) merupakan atlet berbakat dan pekerja keras. Saat semua pesepakbola sudah pensiun atau menurun performanya di usia 36 tahun, dia belum terlihat meredup. DIa terus belajar mengasah tendangannya, fisik dan menjaga pola makan yang ideal untuk menjadi pesepakbola nomor satu. CR7 mungkin tidak perlu bersekolah hingga universitas tapi memahami bahwa menambah pengetahuan itu sangat penting. Dia setidaknya bisa tiga bahasa: Portugis, Spanyol dan Inggris. Mungkin sekarang sedang belajar bahasa Italia. CR7 tidak pernah berhenti belajar dan berjuang untuk menjadi nomor satu.

Di akhir masa PhD saya, saya mengalami keletihan dan rasa bosan. Setelah saya mencari alasannya, saya mendapati bahwa saya memang lelah karena sudah 21 tahun lebih belajar di dunia formal secara tidak berhenti. Kebosanan itu membawa pada suatu perenungan, apa gunanya saya belajar selama dan seintens itu? Akhirnya saya mendapati bahwa inti saya sekolah selama 21 tahun itu adalah saya dapat mempelajari apa saja yang saya butuhkan dan minati.

Saya memiliki spesialisasi di bidang fisika, matematika dan komputer. Bila ada masalah terkait dengan pekerjaan riset, saya memiliki skill untuk menyelesaikannya. Saya juga berminat untuk bernyanyi, memasak dan memperbaiki masalah rumah sendiri bila saya mampu dan memiliki waktu. Saya bisa belajar bagaimana melatih suara saya supaya bisa bernyanyi di nada yang tinggi, mengupgrade masakan saya supaya tidak mengandalkan bumbu jadi, dan lain-lain. Semua minat dalam belajar itu muncul dari tempaan dan kebiasaan rutin saya belajar selama 21 tahun. Saya percaya skill terbaik yang orang dapat miliki adalah skill untuk belajar. Dengan minat belajar yang tinggi kita dapat menjadi apapun yang kita mau: data saintis, software developer, developer komputer kuantum, pemain bola, dan lain-lain. Kita investasikan waktu untuk mendapatkan pengetahuan.

Pada masa sekarang, memperoleh pengetahuan sangat mudah. Bahkan dengan banjirnya pengetahuan kita perlu menyaring pengetahuan-pengetahuan tidak bermanfaat yang ada di media sosial kita. Bahkan kita bisa mendapatkan gelar dengan dibayar bila kita mendapatkan beasiswa. Suatu investasi yang menguntungkan. DIbayar untuk belajar dan mendapatkan gelar.

Dengan menyadari bahwa waktu, uang dan pengetahuan tidak akan kita miliki semua dan terbatas, kita perlu dengan cermat menggunakannya. Bila kita sekarang digaji 100 ribu per hari, kita perlu berkikir bagaimana pendapatan kita meningkat menjadi 200 ribu per hari, misalnya, dengan memanfaatkan resource yang kita miliki. Belajar tidak akan berhenti. Lakukan sesuai minat dan kesenangan untuk menambah pengetahuan hari demi hari. Niscaya buahnya akan nikmat. Belajar sekarang atau menyesal di hari tua.

Di samping itu, menurut saya, arahkan keahlian kita pada sesuatu yang tidak semua orang punya. Dengan menjadi ahli di bidang teori fisika material  terkondensasi, saya merasa cukup mudah mendapatkan pekerjaan di Singapura dan Luxembourg karena skill saya unik dan tidak semua orang bisa melakukan di samping saya menjaga reputasi saya tetap bagus. Secara otomatis persaingan menjadi lebih sedikit. Untuk menjadi pesepakbola nomor satu, CR7 harus mengalahkan ratusan ribu atlet terhebat di dunia, tidak hanya di masa kini juga di masa lalu. Bahkan rekor golnya mengalahkan pendahulunya yaitu Pele dan Biscan. Banyak pekerjaan yang dengan mudah kita dapatkan dengan skill kebanyakan, misalnya pegawai bank. Tiap tahun kemungkinan ada ribuan lapangan pekerjaan untuk pegawai bank. Gajinya cukup menggiurkan, namun untuk mencapai tangga puncak dibutuhkan keunikan. Bila kita tidak unik dan biasa-biasa saja, kita tidak punya alasan mengapa kita harus digaji lebih tingi dan menempati tangga karir lebih tinggi. Begitulah, persaingan dalam dunia kerja tidak akan terhindarkan. Namun kita dapat mengindarinya dengan memiliki keunikan dan tentunya terus belajar.